Thursday, October 5, 2017

Tiwah Upacara Adat Suku Dayak Kalimantan Tengah


twh
Upacara ini merupakan upacara penghantar kerangka jenazah ke tempat peristirahatan yang terakhir. tradisi ini hanya dilakukan oleh suku dayak yang ada di Kalimantan Tengah. Upacara Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama Sandung.

Upacara adat Tiwah sering dijadikan objek wisata karena unik dan khas banyak para wisatawan manca negara tertarik pada upacara ini yang hanya dilakukan oleh warga Dayak Kalteng. Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak.

Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.

Upacara adat Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, upacara Tiwah Suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa.

twh1

Bagi Suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan (penyempurnaan) agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup. Selanjutnya, upacara Tiwah juga bertujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan berkeluarga. Pasca Tiwah, secara adat mereka diperkenankan untuk menentukan pasangan hidup selanjutnya ataupun tetap memilih untuk tidak menikah lagi.

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (Sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).

Melaksanakan upacara Tiwah bukan pekerjaan mudah. Diperlukan persiapan panjang dan cukup rumit serta pendanaan yang tidak sedikit. Selain itu, rangkaian upacara prosesi Tiwah ini sendiri memakan waktu hingga berhari-hari nonstop, bahkan bisa sampai satu bulan lebih lamanya.
Ritual Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama Sandung.

Ritual Tiwah dijadikan objek wisata karena unik dan khas banyak para wisatawan manca negara tertarik pada upacara ini yang hanya di lakukan oleh warga Dayak Kalteng. Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak.
Upacara Tiwah adalah upacara kematian yang biasanya di gelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.

twh2

Puncak acara Tiwah ini sendiri nantinya memasukkan tulang-belulang yang digali dari kubur dan sudah disucikan melalui ritual khusus ke dalam Sandung. Namun, sebelumnya lebih dahulu di gelar acara penombakan hewan-hewan korban, kerbau, sapi, dan babi.

Upacara Tiwah atau Tiwah Lale atau Magah Salumpuk liau Uluh Matei ialah upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habusung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau yang letaknya di langit ke tujuh.

Perantara dalam upacara ini ialah :
Rawing Tempun Telun, Raja Dohong Bulau atau Mantir Mama Luhing Bungai Raja Malawung Bulau, yang bertempat tinggal di langit ketiga. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Rawing Tempun Telun dibantu oleh Telun dan Hamparung, dengan melalui bermacam-macam rintangan.

Kendaraan yang digunakan oleh Rawing Tempun Telun mengantarkan liau ke Lewu Liau ialah Banama Balai Rabia, Bulau Pulau Tanduh Nyahu Sali Rabia, Manuk Ambun. Perjalanan jauh menuju Lewu Liau meli\ewati empat puluh lapisan embun, melalui sungai-sungai, gunung-gunung, tasik, laut, telaga, jembatan-jembatan yang mungkin saja apabila pelaksanaan tidak sempurna, Salumpuk liau yang diantar menuju alam baka tersesat. Pelaksana di pantai danum kalunen dilakukan oleh Basir dan Balian.
Read more

Tari Mayang Rontek berasal dari Mojokerto




Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu wilayah di Jawa Timur yang memiliki berbagai ragam corak budaya, karya leluhur dan memiliki nilai-nilai sejarah. Salah satunya adalah busana Tari Mayang Rontek. Tari Mayang Rontek merupakan tari pelengkap yang dijadikan sebagai tari pembuka dalam sebuah prosesi Pengantin Mojoputri. Untuk mengetahui latar belakang terciptanya busana Tari Mayang Rontek dan bentuk busana Tari Mayang Rontek, maka perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:

1) Latar belakang penciptaan busana Tari Mayang Rontek
2) Bentuk Busana Tari Mayang Rontek.

Bentuk penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk mengukur keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa busana tari mayang rontek dipengaruhi oleh masuknya budaya islam ke tanah jawa. 

Hal ini dapat diketahui dari bentuk visual busana tari mayang rontek yang tertutup. Bentuk busana tari mayang rontek terdiri dari busana pokok, busana pelengkap dan aksesoris. 
Busana pokok tari mayang rontek terdiri dari kebaya dan kain panjang. sedangkan busana pelengkapnya terdiri dari kerudung, rapek, kain wolo, dan ilat-ilatan. Aksesoris busana tari mayang rontek meliputi sanggul. jamang. rontek. giwang. kalung susun, dan sabuk pendhing.

Nah cukup sekian pengenalan tentang Tari Mayang Rontek dari Mojokerto, Jawa Timur, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang kesenian tradisional di Indonesia.



CINTAI DAN LESTARIKAN BUDAYA KESENIAN TRADISIONAL DI INDONESIA!
Read more

Tari Barong berasal dari Bali


Tari Barong adalah tarian tradisional Bali yang cukup terkenal. Tari Barong ini merupakan warisan kebudayaan sebelum munculnya agama Hindu di tanah dewata. Tarian Tradisional Bali ini ditarikan oleh 2 orang laki-laki, satu bagian kepala dan satunya lagi dibagian ekor, sehingga kelihatanya seperti binatang berkaki empat. 

Kata barong sendiri berasal dari kata bahruang yang berarti juga beruang, sehingga penampilan badannya besar seperti binatang beruang. Ada bermacam-macam barong seperti barong macan, barong bangkal, barong gajah, barong asu, barong landung, barong blasblasan, barong ket (keket). Tari Barong yang sering ditampilkan pada saat ini adalah barong ket, jenis tari barong ini memiliki kostum dan gerak tari yang lengkap, bentuknya merupakan  perpaduan antara binatang singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, dengan potongan kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari serat daun perasok , ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak, topeng muka barong dibuat dari kayu dengan sumber tempat yang angker dan keramat.

Tari Barong dipentaskan menggambarkan pertarungan yang sengit antara kebajikan yang disimbolkan denan barong dengan kebatilan yaitu rangda, dan dipentaskan dengan penuh sajian humor.


Nah cukup sekian pengenalan tentang Tari Barong dari Bali, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang kesenian tradisional di Indonesia.



CINTAI DAN LESTARIKAN BUDAYA KESENIAN TRADISIONAL DI INDONESIA!
Read more

Tari Topeng berasal dari Malang




Tari Topeng Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan.
Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia, karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, menangis, tertawa, sedih, malu dan sebagainya. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji.
Kesenian Tari Topeng Malang merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing). Sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali.
Sampai saat ini Tari Topeng masih bertahan dan masih memiliki sesepuh yaitu Mbah Karimun yang tidak hanya memiliki keterampilan memainkan tari ini namun juga menciptakan model2 topeng dan menceritakan kembali hikayat yang sudah berumur ratusan tahun. Sayang sekali Mbah Karimun tidak memiliki penerus yang dapat menggantikan dirinya melestarikan kesenian khas daerah Malang ini. Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti event2 penting kesenian tradisional tingkat nasional.
Dengan keahliannya membuat topeng juga telah menyediakan lapangan pekerjaan bagi puluhan perajin topeng. Dipasarkan sebagai souvenir di tempat2 wisata dan galeri2 seni dengan harga yang cukup terjangkau. Perhatian dan dukungan yang lebih kongkret perlu diberikan oleh Pemda dan instansi2 terkait untuk mempopulerkan kembali kesenian khas Malang ini di masyarakat.


Nah cukup sekian pengenalan tentang Tari Topeng Malangm, Jawa Timur, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang kesenian tradisional di Indonesia.


CINTAI DAN LESTARIKAN BUDAYA KESENIAN TRADISIONAL DI INDONESIA!
Read more

Tari Magunatip atau Tari Lalatip berasal dari Kalimantan Utara

tari tradisional kalimantan utara



Tari Magunatip atau Tari Lalatip merupakan tarian tradisional yang berasal dari daerah Tarakan dan Malinau Kalimantan Utara. Pada jaman dahulu tarian magunatip digunakan sebagai latihan ketangkasan kaki dalam melompat dan menghindari rintangan. Hal ini dilakukan karena adanya perang antar suku. Kemudian latihan ketangkasan itu kini dijadikan sebuah tarian.

Dalam tarian magunatip atau lalatip yang merupakan tarian tradisional Kalimantan Utara ini terdapat tiga kelompok pemain yaitu kelompok penjepit kaki dengan menggunakan batang kayu, kelompok penari sambil menari juga menghindari jepitan kayu dan kelompok pemain musik dengan alat musik tradisional Kalimantan Utara berupa gong dan kendang.


Tarian ini mendebarkan karena penari dapat terjepit atau terapit kakinya oleh batang kayu bila terlambat menghindar apalagi saat penari menari dengan ditutup kedua matanya.


Nah cukup sekian pengenalan tentang Tari Magunatip atau Tari Lalatip berasal dari Kalimantan Utara, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang kesenian tradisional di Indonesia.


CINTAI DAN LESTARIKAN BUDAYA KESENIAN TRADISIONAL DI INDONESIA!

Read more

Tari Baksa Kembang berasal dari Kalimantan Selatan

Kembang atau bunga merupakan lambang dari keindahan. Seperti halnya tarian di Kalimantan selatan yang menggunakan kembang sebagai aksesoris dan property menarinya. Tarian tersebut adalah Tari Baksa Kembang.



Apakah Tari Baksa Kembang itu? Yuk kita cari tahu di Budaya Indonesia.
Tari Baksa Kembang adalah salah satu tarian klasik dari Kalimantan selatan yang di fungsikan sebagai tarian penyambutan tamu. Tarian ini biasanya dimainkan oleh penari wanita sebagai penari tunggal atau bisa juga dengan berkelompok dengan syarat jumlah penari harus ganjil.

Tari Baksa Kembang awalnya merupakan tarian yang hanya di tampilkan di lingkungan kerajaan untuk menyambut tamu kehormatan atau kerabat kerajaan. Namun seiring dengan perkembangan, tarian ini mulai populer di masyarakat ketika kerajaan Banjar mulai membuka akses untuk masyarakat menyaksikan pertunjukan tari ini. Sehingga Tari Baksa Kembang mulai populer di masyarakat dan menjadi salah satu kebudayaan daerah di Kalimantan selatan.

Sebenarnya Tari Baksa Kembang memiliki berbagai versi yang berbeda, namun masih tidak meninggalkan versi aslinya. Beberapa versi tersebut di antaranya seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang Di karenakan banyaknya versi yang ada, maka para seniman Tari Baksa Kembang  dari beberapa versi yang ada di kumpulkan untuk menjadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku. Setelah itu mulai di kenalkan oleh masyarakat luas dan menjadi Tari Baksa Kembang yang baku hingga kini.
Gambar : Penari Tari Baksa Kembang

Dalam pertunjukannya, penari di balut dengan busana khas Tari Baksa Kembang. Selain itu penari juga lengkapi dengan selendang yang di gunakan untuk menari, sehingga saat menari terlihat anggun dan mempesona. Salah satu yang khas dalam busana Tari Baksa Kembang adalah mahkota di kepalanya yang bernama gajah gemuling, yaitu mahkota yang di hiasi oleh dua kembang bogam ukuran kecil dan anyaman daun kelapa muda yang sering di sebut halilipan.

Gerakan dalam tarian ini menggambarkan seperti putri - putri remaja yang cantik sedang bermain di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga yang kemudian di rangkai menjadi kembang bogam dan mereka bawa sambil menari dengan lemah gemulai dan cantik. Dalam pertunjukannya, penari di membawa property di tangannya sepasangkembang bogam, yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogan ini akan dihadiahkan kepada tamu yang datang setelah tarian selesai.
Gambar : Pertunjukan Tari Baksa Kembang
Tari Baksa Kembang bisa kita temukan di berbagai acara penyambutan tamu, acara adat dan juga festival budaya di Kalimantan selatan. Seiring dengan perkembangan, banyak kreasi yang di tambahkan dalam setiap pertunjukan tari ini, contohnya dalam kreasi busana atau gerakan tambahan. Hal ini di lakukan sebagai pelestarian kesenian ini dan agar pertunjukan yang di sajikan terlihat menarik.

Nah cukup sekian pengenalan tentang Tari Baksa Kembang dari Kalimantan selatan, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang kesenian tradisional di Indonesia.

CINTAI DAN LESTARIKAN BUDAYA KESENIAN TRADISIONAL DI INDONESIA!
Read more

Tari Gong berasal dari Kalimantan Timur

Gong merupakan salah satu alat musik yang terkenal di Indonesia. Namun gong tidak hanya di gunakan untuk alat musik saja. Seperti halnya tarian dari Kalimantan timur satu ini, yaitu Tari Gong.


Apakah Tari Gong itu? Yuk kita cari tahu di Budaya Indonesia.
Tari Gong adalah tarian tradisional suku Dayak di Kalimantan timur yang menggunakan gong sebagai media menarinya. Tarian ini di mainkan oleh seorang gadis yang menari di atas gong dengan penuh keanggunan, nama Tari Gong sendiri di ambil dari situ. Tari Gong ini sering di sebut dengan nama tari kancet ledo oleh masyarakat Dayak di sana.

Gerakan dalam Tari Gong menggambarkan kelembutan seorang gadis yang terlihat dari gerakan tubuh dan tangannya yang lemah lembut. Gerakan dalam tarian ini memang tidak begitu banyak seperti tarian dari Kalimantan timur lainnya, bahkan banyak gerakan yang di ulang - ulang. Namun yang di tonjolkan dalam tarian ini adalah kelembutan sang penari dalam bergerak dan menari. Gerakan pada tarian ini lebih fokus pada gerakan tangan saat melambai, gerakan tubuh, dan juga gerakan kaki saat melangkah dan berpijak di gong. Semua gerakan itu di mainkan penuh dengan kelembutan. Tarian ini memang terlihat sederhana, namun kelenturan dan keseimbangan sangat di butuhkan dalam menari tarian satu ini. 
 
Gambar : pertunjukan tari gong
Dalam pertunjukannya penari di balut oleh busana khas adat Dayak kenyah di Kalimantan timur. Yaitu baju dengan yang di hiasi oleh manik - manik berwarna cerah dan corak khas Dayak yang dilengkapi dengan taahTaah merupakan pakaian khas wanita Dayak berupa kain yang dihiasi manik-manik, taah biasanya dipakai dengan cara dililitkan pada pinggang. Selain itu, kepala penari biasanya menggunakan lavung, yaitu topi yang dibuat dari rotan yang di hiasi motif yang senada dengan pakaian dan taah. Asesoris lain yang di gunakan adalah kalung manik-manik atau yang terbuat dari gigi atau taring macan. 

Pada saat menari, tangan penari di selipkan rangkaian bulu ekor dari burung enggang sebagai property menarinya. Hampir sama dengan tarian enggang, namun dalam tarian ini gerakan yang di gunakan lebih lembut dan sederhana. Dalam tarian ini juga di iringi oleh musik tradisional seperti sapeq atau alat musik seperti kecapi. Ritme musik pengiring dalam tarian ini juga bertempo lambat. Sehingga menyesuaikan dengan gerakan tari yang lemah gemulai.

Tari Gong sering di tampilkan dalam berbagai acara adat seperti acara penyambutan tamu dan festival budaya di Kalimantan timur. Tarian ini masih terus di lestarikan, sehingga banyak modifikasi dan kreasi dalam gerakan dan kostum yang di kenakan. Semua itu agar lebih menarik dan dapat menarik minat wisatawan yang datang berkunjung.

Nah cukup sekian pengenalan tentang Tari Gong dari Kalimantan timur. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang kesenian tradisional di Kalimantan timur.

CINTAI DAN LESTARIKAN BUDAYA KESENIAN TRADISIONAL DI INDONESIA!

Read more